10 menit memejamkan mata, raungan kapal membangunkan ku dari tidur. Cepat sekali waku berlalu. Hampir 2 jam terhempas angin laut dan terombang ambing dalam kapal dan singkatnya waku istirahat membuat kepala serasa pening berputar. Tapi untungnya tidak mengacaukan pandangan jadi masih bisa kupaksakan untuk melangkah menuju mobil.
Hari ini Jumat, 26 Februari 2010 Hari dimana aku meninggalkan sejenak keramaian Jawa dan melangkah menuju pulau yang asing yang baru akan ku sentuh. pukul 04.30 WIB kapal bersandar di Pelabuhan Bakahueni Lampung. Pagi masih gelap karena Adzan subuh baru terdengar sayup sayup dari daratan yang berbukit cadas. Jauh pandangan menatap, laut pekat dan langit tak bercahayalah yang ada. Matahari masih beberapa puluh menit lagi akan terbit, seseuatu yang sebenarnya sangat aku inginkan untuk bisa melihat matahari terbit dari atas kapal atau bahkan di tengah laut. Sayang momennya tidak tepat kali ini. Mungkin lain waktu aku lebih beruntung. Pintu KMP. Nusa Darma, kapal yang kami umpangi terbuka dan memuntahkan isinya dan kami berada didalamnya. Berdesakan dengan hati berdebar, karena untuk pertama kalinya akan mengirup udara Sumatra. Dengan berbagai macam peranyaan yang berputar, mobil keluar antrian meninggalkan kapal KMP. Nusa Darma yang mengenalkanku pada selat sunda dan mengantarkankan ku pada tempat asing yang hanya ku kenal dalam peta Indonesia. Dan dari Lampung ini semuanya dimulai.
Momentum melangkahkan kaki pertama di Sumatra tidak seperti pada bayanganku sebelumnya, yang historis dan fenomenal, misalnya dalam pantai berpasir putih atau tempat miring yang eksotis. Semuanya salah, karena saksi bisu langkah pertama ku di Sumatra harus tergusur oleh desakan alamiah manusia di pembuka hari, mandi Sholat Subuh dan buang hajat. Tempat yang paling pas untuk mengakomodir semua kebutuhan itu adalah Pom bensin. Tepatnya di kawasan kampung bali Lampung. Sebuah kawasan dimana seperti mengangkat sebuah perkampungan bali lengkap dengan rumah, dan arsitektur khas Balinya ke Lampung, indah dan tertata rapi. Kesan pertama yang hampir menipu pikirannku, karena nyaris beranggapan kalau orang semua orang Lampung itu adalah orang Bali.
Inilah sisi positif orang Bali, dimanapun mereka merantau, tetap membaur dan menghormati kearifan budaya serta penduduk lokal tetapi tidak meninggalkan dan melupakan ajaran leluhur, dari tempat asli mereka.
15 menit setelah itu kami kembali melanjutkan perjalanan. kali ini tak ku sia-siakan mengabadikan Sunrise pertama di Sumatra. Sederhana bagi orang lain, namun historis bagiku. Matahari selalu cunya pesona untuk di pandang. Dimana tempat selalu berbeda, begitu juga saat eprtama akli manatap matahari pagi di sini. Indah dan mempesona.
Pukul 07.15, saat rombongan memutuskan untuk singgah dan sarapan, aku baru benar-benar menikmati pagi pertamku di Sumatra. Menapaki bulir bulir anah putih yang mirip dengan pasir. Pagi yang cerah bersama riuhnya daun kelapa bergesekan teriup angin di samping jalan lintas timur yang masih senggang. Bersama para supir truk pembawa ikan dan buah kami menikmati suasana pagi sambil segelas teh hangat dan mie rebus berkuah banjir. inilah pagi pertmaku menghirup udara Sumatra. Sekali lagi, sangat sederhana bagi sebagian orang, tapi merupakan pengalaman baru yang berharga bagiku.
nice mas, jadi kangen lampung neh saya.. udah 2 tahun nggak pulang ke rumah di lampung, mudah2an lebaran tahun ini bisa pulang. oh ya ditunggu foto2nya mas buat ngilangin kangen sama lampung, hehehe
makasih mas tri atas responnya. lampung emang kota yang tak terlupa.
tp sayang saya belum muter-muter lebih jauh, jdi maaf belum dapet banyak gambar bagus. tp diusahakan pada postingan2 berikutnya..
maturnuwun..