Ternyata berdesakan di dalam mobil bersama tumpukan barang yang tidak muat diletakan di bagasi tidak terlalu membuat kami tersiksa. Mungkin benar, doa leluhur melindungi kami dan menambah energi pada badan-badan kami. Tapi bagiku energi datang karena semangat akan bertemu dengan sang pujaan hati yang hampir 6 bulan di pisahkan jarak.
Apakah kabarnya dia disana??
Seperi apakah dia sekarang??
Masihkah matanya yang indah penuh cinta, seperti saat pertama kali bertemu??
Rindukah dia kepadaku segila rinduku padanya yang tak pernah kuutarakan ??
Atau semua itu hanya aku yang merasakan, sementara dia nyaman dengan keluarganya di sana dan lebih memilih bersama keluarganya dibannding dengan ku?? Inginku pecah kaca mobil ini lalu kutancapkan di kepalaku jika itu terjadi.
Perjalanan panjang ini membuat kami sekeluarga_walaupun sebelumnya sudah dekat_tapi dari sini kami bisa lebih mendalami karaker dari masing-masing kepala. Idialis, keras kepala, belagu, berpandangan simple, dan moody itu aku. Bagiku semua sifat ini sudah turun temurun dari keluarga kami, hampir semua kepala dari cucu keturunan darah embah ayahku, memiliki jidat yang telah distempel sifat itu. Kami tak gentar walau pinggang harus tegak menempel sandaran mobil berjam-jam. Atau kaki susah selonjor karena ruangan dipenuhi oleh-oleh asli dari jawa. Semua terbungkus rapi dalam tawa dan keihklasan. Sebenarnya tidak banyak barang pribadi yang kami bawa. Termasuk aku, aku hanya membawa beberapa baju ganti, batik, perlengkapan mandi, Hp dan terakhir nyawaku adalah camera digial. Inilah salah satu hal terpenting dalam penambah semangat dalam perjalanan lintas pulau kali ini. Bagiku kehilangan momen berharga adalah kerugian terbesar dalam setiap adengan kehidupan. Maka dari itu tak ku sia-siakan moment-moment berharga, yang di ambil oleh sang kameramen amatir. Seadannya tapi jujur dan tulus. Kata yang lebih tepat adalah sebisannya.
Tapi komitmen tentang kerugian berharga atau kehilangan momen berharga hilang begitu saja ketika sepanjang perjalanan aku tertidur pulas. Melewatkan perjalanan, kehilangan bahan bidikan dan tentunya kehilangan moment.
Sepanjang perjalanan, q terus mengupdate kabar terbaru kepada teman dan keluarga di Jawa melalui sms, telp dan bahkan facebook. Tak lupa juga kepada kekasih hati yang setiap 30 menit sekali selalu menanyakan keadaan. Betapa perhatiannya ini bagiku, perjalanan panjang ini secara tidak langsung menguras banyak tenaga. Dan teknilogilah yang membantu semuanya tetap lancar. Teknologi memang sangat memmbantuku agar tetap tersabung dengan dunia luar.
Pukul 02.00 WIB, aku sampai di penyebrangan merak. Titik terdekat dengan sumatra. Dingin bercampur binggung. Di sini kami bagai kutu kecil di antara belukar. Kelompok orang modern yang sudah merasa modern tapi masih berjiwa katrok karena takjub dengan hal-hal yang baru pertama kali disaksikan nyata tidak sekedar dari TV. Tidak hanya kami yang takjup melihat kapal-kapal besar berlalu lalang, banyak dari rombongan berBMWpun, mulutnya menganga dengan mata berbinar menyaksikan moncong kapal terbuka, mungkin mereka OKB yang baru merasakan sensasi angin malam penyebrangan Merak-Bakahuni. Pamanku malah lebih parah lagi, dia menghitung berapa ruk besar, motor serta mobil yang masuk ke dalam kapal, dan ketakutan sendiri ketika kapal masih saja menjejalkan truk-truk bermuatan berat. Dia histeris kapal akan karam ditengah laut karena kebanyakan muatan. Benar-benar konyol.
Arus penyebrangan yang lumayan padat karena bertepatan dengan weeked membuat kami harus bersabar mengantri menanti kapal selanjutnya yang akan muat.
Aku menatap titik terjauh pandangan mata. Banyak titik-titik lampu yang kelihatan samar. Sumatrakah itu?? Pulau asing yang akan kuketahui kebenaranya. Amankah disana??
Selat sunda diwaktu malam.
Angin malam menghempas keseluruh bagian tubuh. Dingin dan membuat kepala berat. Tapi sensasi ini suatu saat pasti ku rindukan. Orang hiruk pikuk mencari tempat ternyaman untuk sekedar menyandarkan badan dan memejamkan mata. Dimana tempat terisi orang bermata sayu yang tengah menempuh perjalanan jauh. Wajah berminyak dan rambut aut-autan. Nyaris itu yang bisa aku lihat dari wajah mereka. Kaya, miskin, tua , muda, ganteng cantik, dan bahkan ternak sekalipun berjubel menjadi satu dalam keberangkatan ini. Bersama wajah semangat penuh harapan para perantauan yang akan menggandakan rejeki di sumatra, atau wajah putus asa dan kesakitan dari para pemuda yang harus kembali ke desannya karena gagal bergelut dengan kota yang bergarak dengan cepat, dan mereka terlindas. Terrangkum menjadi satu dalam figura tak terlihat ciptaan Sang pencipta. Menakjubkan.
Kapal melaju dengan kecepatan terkendali. Air laut yang hitam memantukan cahaya bulan yang bergoyang bersama riak dan debur. Angin laut yang keras menerbangkan rambut pendekku atau kenatap titik terjauhan antara nyata dan fatamora. Aku menikmainya. Bersama KMP. Nusa Darma, yang melaju mantap, semuanya berjalan cepat.
Terdiam diantara takjub akan kebersaran Sang Pencipta, begitu kecil aku bersama kesombongan yang selama ini membutakan mata. Jasat yang tak berharga ini, jiwa yang berbercak hitam ini, Hanya sebesar partikel. Kecil, sepele dan tak bernilai.
Terdiam dengan pikiran yang melayang entah kemana. Inilah selat sunda yang banyak dikatakan orang, begitu banyak orang yang harus melewati selat sempit ini untuk menggapai mimpi-mimpinya. Rintangan pertama sebelum menjalani kerasnnya kehidupan sebenarnya, baik yang dari Jawa ke Sumatra, ataupun sebaliknya. Dan darii kejauhan merak yang tampak eksotis. Yang Gagah menghalau angin. Yang Tegar dihempas ombak dan garang bila ditapaki. Malam ini aku melangkah meninggalkan Jawa.
Jual Internet Unlimited Murah